UC Jakarta dan Jakarta Fashion Hub Gelar Embroidery Workshop Bersama Bill Tjong

Bill Tjong memandu peserta workshop mempelajari teknik dasar embroidery di Jakarta Fashion Hub.
Apa itu Embroidery Workshop UC Jakarta?
Sebagai bentuk komitmen menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif, UC Jakarta berkolaborasi dengan Jakarta Fashion Hub menyelenggarakan Embroidery Workshop bersama Bill Tjong pada 21 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya memperkenalkan dunia fashion kepada generasi muda sekaligus memberi pengalaman belajar langsung dari praktisi industri.
Workshop berlangsung di Jakarta Fashion Hub dan diikuti 30 peserta, terdiri dari siswa SMA, mahasiswa, serta masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap dunia fashion, tekstil, dan desain. Format kegiatan yang interaktif membuat peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga memahami proses kreatif di balik sebuah karya busana.
🎯 Key Takeaways
- Embroidery Workshop UC Jakarta dan Jakarta Fashion Hub digelar 21 Mei 2026, diikuti 30 peserta.
- Bill Tjong, desainer berpengalaman lebih dari 20 tahun di industri couture dan bridal wear, menjadi narasumber utama.
- Fesyen adalah salah satu subsektor terbesar ekonomi kreatif Indonesia dari sisi kontribusi PDB dan ekspor.
- Workshop memadukan teori, studi kasus, dan praktik langsung teknik embroidery.
- UC Jakarta menyediakan jalur pendidikan formal di bidang desain fashion bagi yang ingin memperdalam keterampilan ini secara profesional.
Mengapa Kolaborasi Kampus dan Industri Fashion Ini Penting?
Kolaborasi pendidikan tinggi dengan pelaku industri seperti ini penting karena menjawab kesenjangan yang selama ini sering dikeluhkan dunia kerja: lulusan yang menguasai teori tetapi minim pengalaman praktis. Format belajar langsung dari praktisi memungkinkan peserta memahami standar kerja industri sejak dini.
Fesyen bukan sekadar hobi atau keterampilan pelengkap. Berdasarkan data Kemenparekraf yang diolah dalam kajian akademik, subsektor fesyen menjadi salah satu dari tiga kontributor terbesar ekonomi kreatif Indonesia, bersama kuliner dan kriya. Secara nasional, sektor ekonomi kreatif menyerap sekitar 26,5 juta tenaga kerja pada 2024, dengan fesyen sebagai salah satu subsektor penyumbang lapangan kerja terbesar.
Dari sisi perdagangan, Kemenparekraf mencatat fesyen mendominasi ekspor ekonomi kreatif dengan kontribusi US$ 6,76 miliar pada semester I 2024, jauh di atas subsektor kriya maupun kuliner. Angka ini menegaskan bahwa keterampilan seperti embroidery bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga modal ekonomi yang nyata.
Kesiapan generasi muda memasuki industri kreatif tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga oleh akses terhadap pengalaman belajar langsung dari praktisi yang telah teruji di industri.
Siapa Bill Tjong dan Mengapa Kredensialnya Relevan?
Bill (Billy) Tjong merupakan desainer fashion dan entrepreneur Indonesia yang telah berkarya di industri fashion selama lebih dari dua dekade. Melalui label Billy Tjong, ia dikenal dengan karya couture dan bridal wear yang menonjolkan detail embroidery, embellishment, serta kualitas craftsmanship tinggi.
Detail, kreativitas, dan ketelitian adalah tiga hal yang membedakan produk fashion bernilai estetika tinggi dari produk fashion pada umumnya.
— Rangkuman insight dari sesi materi Bill Tjong dalam workshop
Pengalamannya diperkuat berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Mercedes-Benz Asia Fashion Award, serta partisipasi dalam berbagai ajang fashion nasional maupun internasional. Selain aktif mengembangkan bisnis fashion, ia juga kerap berbagi ilmu melalui pelatihan di bidang fashion design, pattern making, dan garment construction, menjadikannya figur yang tepat untuk memandu peserta memahami standar kerja industri sesungguhnya, bukan sekadar teori di buku.

Peserta mencoba langsung teknik dasar embroidery dengan bimbingan narasumber sepanjang sesi praktik.
Apa Itu Embroidery dan Perannya dalam Industri Fashion?
Embroidery adalah teknik menghias kain atau busana dengan jahitan benang untuk menciptakan pola, tekstur, dan nilai estetika tambahan pada sebuah karya. Teknik ini dapat dikerjakan secara manual (hand embroidery) maupun menggunakan mesin (machine embroidery), dan telah menjadi elemen penting dalam industri fashion kelas atas maupun massal.
Secara global, riset pasar dari salah satu lembaga riset industri memperkirakan nilai pasar embroidery dunia mencapai sekitar USD 1,54 miliar pada 2024 dan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 6,1 persen hingga 2033, didorong oleh tren personalisasi produk fashion, aksesori, dan tekstil rumah tangga. Perlu dicatat, angka estimasi pasar embroidery bervariasi antar lembaga riset karena perbedaan metodologi, sehingga figur ini sebaiknya dibaca sebagai indikasi tren pertumbuhan, bukan angka tunggal yang pasti.
Dalam sesi utama, Bill Tjong menjelaskan bagaimana teknik embroidery dapat menjadi nilai tambah pada sebuah karya busana, sekaligus menekankan pentingnya detail, kreativitas, dan ketelitian dalam menghasilkan produk bernilai estetika tinggi. Melalui contoh karya dan studi kasus, peserta diajak memahami bahwa setiap elemen desain memiliki cerita dan karakter yang dapat meningkatkan nilai jual sebuah produk fashion.
Bagaimana Jalannya Workshop: Materi dan Sesi Praktik
Selain penyampaian materi, workshop ini dilengkapi sesi praktik langsung. Peserta mencoba teknik-teknik dasar embroidery dengan bimbingan narasumber, sehingga dapat langsung mengaplikasikan teori yang dipelajari sekaligus berdiskusi mengenai tantangan dalam proses pembuatan karya.
-
1Pemaparan Materi Embroidery Pengenalan teknik embroidery dan sejarah singkatnya dalam dunia fashion.
-
2Studi Kasus Karya Bill Tjong Pembahasan proses kreatif di balik karya-karya couture dan bridal wear beliau.
-
3Diskusi Pengembangan Ide Perbincangan seputar pengembangan ide desain dan penyusunan portofolio.
-
4Sesi Praktik Langsung Peserta mencoba teknik dasar embroidery dengan bimbingan narasumber.
-
5Tanya Jawab Interaktif Diskusi seputar karier, bisnis, dan tren terkini di industri fashion.
Antusiasme Peserta dan Hasil Evaluasi
Sesi tanya jawab berjalan aktif, mencakup topik pengembangan portofolio, tren fashion terkini, peluang bisnis di industri kreatif, hingga tips membangun karier sebagai desainer. Interaksi antara narasumber dan peserta menciptakan suasana belajar yang hangat sepanjang kegiatan.
Bagaimana UC Jakarta Mempersiapkan Talenta Industri Kreatif dan Fashion Masa Depan?
Embroidery Workshop bersama Bill Tjong bukan kegiatan berdiri sendiri, melainkan bagian dari pendekatan belajar berbasis pengalaman yang diterapkan UC Jakarta secara konsisten. Kampus yang meraih akreditasi Unggul dari BAN-PT ini menempatkan kolaborasi dengan praktisi industri sebagai bagian tak terpisahkan dari kurikulum, bukan sekadar kegiatan tambahan.
Bagi peminat dunia desain dan fashion, UC Jakarta menyediakan Program Studi Visual Communication Design – Fashion Design, sebuah peminatan khusus di bawah payung Program Studi Visual Communication Design yang memadukan dasar-dasar desain komunikasi visual dengan keterampilan teknis fashion, mulai dari riset tren, pengembangan koleksi, hingga presentasi portofolio.
-
1Entrepreneurial Mindset Mahasiswa dibekali cara berpikir wirausaha, bukan hanya keterampilan teknis, agar siap membangun label atau bisnis fashion sendiri.
-
2Experiential Learning Tugas tengah dan akhir semester dikerjakan berdasarkan proyek nyata bersama mitra industri, dievaluasi langsung oleh perusahaan terkait.
-
3Kolaborasi Praktisi Kegiatan seperti workshop bersama Bill Tjong memberi mahasiswa akses langsung ke standar kerja dan jejaring industri sesungguhnya.
-
4Kurikulum Berbasis AI Mahasiswa dilatih memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dalam proses desain dan riset tren agar lebih kompetitif.
Tertarik Mendalami Dunia Desain Fashion Secara Profesional?
UC Jakarta membuka Program Studi Visual Communication Design dengan peminatan Fashion Design bagi siswa dan calon mahasiswa yang ingin mengubah minat pada fashion menjadi karier profesional.
Kuliah Formal vs Belajar Otodidak di Bidang Fashion: Mana yang Tepat?
Pertanyaan ini kerap muncul di benak calon mahasiswa dan orang tua: apakah keterampilan fashion sebaiknya dipelajari lewat kursus singkat/otodidak, atau melalui pendidikan formal S1? Berikut perbandingan singkatnya.
| Aspek | Otodidak / Kursus Singkat | Kuliah Formal (S1 Fashion Design) |
|---|---|---|
| Penguasaan teknik dasar | Cepat didapat, tetapi terbatas pada satu keterampilan | Bertahap dan terstruktur, mencakup banyak teknik |
| Wawasan bisnis & branding | Umumnya tidak disediakan | Terintegrasi dalam kurikulum kewirausahaan |
| Jejaring industri | Bergantung inisiatif pribadi | Difasilitasi lewat kerja sama kampus-industri |
| Portofolio & sertifikasi akademik | Tidak selalu diakui formal | Diakui sebagai gelar sarjana terakreditasi |
| Bimbingan pengembangan karier | Minim atau tidak ada | Ada melalui dosen, mentor, dan jalur sukses karier |
Kesimpulan: kursus singkat seperti workshop embroidery sangat baik sebagai titik masuk untuk mengenal minat, sementara pendidikan formal memberi fondasi yang lebih lengkap untuk membangun karier jangka panjang di industri fashion.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Kesimpulan
Kolaborasi antara UC Jakarta dan Jakarta Fashion Hub menjadi bukti pentingnya sinergi dunia pendidikan dengan pelaku industri dalam menciptakan pengalaman belajar yang aplikatif. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga gambaran nyata mengenai dinamika industri dan kompetensi yang dibutuhkan untuk bersaing di masa depan.
UC Jakarta akan terus menghadirkan program kolaboratif bersama profesional dan praktisi industri sebagai bagian dari komitmennya membekali generasi muda dengan keterampilan, kreativitas, dan jiwa entrepreneurship. Kegiatan seperti ini diharapkan menjadi inspirasi bagi peserta untuk terus berkarya dan mempersiapkan langkah menuju karier sukses di industri fashion dan kreatif.
